Pasca Pameungpeuk Mencekam, Apakah dr. Emma Korban covid-19?

  • Whatsapp
Ratusan warga Pameungpeuk mendatangi kantor Kecamatan Pameungpeuk, Kamis malam tadi.
banner 468x60

Laporan Wartawan Pojokberita.co.id : Taufik

GARUT, Pojokberita.co.id – Entah apa yang menjadi keputusan dr. Emma Risdiyana, salah seorang dokter yang bertugas sudah lebih 10 tahun ini di Puskesmas Pameungpeuk, memilih mengundurkan diro dan pulang kampung halamannya yang ada di Tasikmalaya.

Muat Lebih

banner 300250

Sang dokter ini dengan keputusan hasil musyawarah keluarga memantafkan diri mengundurkan diri, setelah ada insiden di Kantor Kecamatan Pameungpeuk, setelah menjelaskan kalau warga Kampung Cidahon meninggal dunia bukan akibat covid-19.

Saat insiden tersebut yang terjadi usai magrib, dr. Ema Risdiyana dengan tegar memberikan penjelasan terkait kematian salah seorang warga Cidahon, yang awalnya dianggap positif corona. Tidak ada perwakilan dari Pemkab Garut, hanya pihak Kecamatan yang mendampingi.

Mundurnya dr. Emma Risdiyaan menimbulkan pertanyaan yang besar bagi semua pihak. Tak terlintas malam yang membuat mencekam merupakan malam terakhir bagi sang dokter.

“Saya sangat menyangkan dengan mundurnya dr. Emma pasca simpang siurnya jenazah hang dari Tangerang terindikasi covid-19. Ia hanya menjalankan perintah pimpinan tak melihat harus mengorbankan jabatan yang telah diabdikan di Garut Selatan,” ujar Ade Kaca, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Sabtu (9/5/2020).

Ia menuturkan, pengabdian sebagai tenaga medis yang merupakan garada terdepan dalam covid-19, harus dihargai, walaupun tidak ada dukungan dari pihak Pemkab Garut yang saat insiden terjadi.

“Saya gak mau menyebutkan kalau dr. Emma korban penanganan covid-19, dengan ada dua surat yang berbeda terkait jenazah yang dikirim dari Tangerang itu,” ucapnya.

Ade juga mengaku kecewa dengan sikap dua pimpinan di Kabupaten Garut yang tidak mau menghadapi massa yang datang ke Kecamatan.

“Kemana mereka saat insiden terjadi. Seharusnya Bupati dan Wakil Bupati Garut datang kalau tidak sekalipun menugaskan tim gugus tugas covid-19, tingkat Kabupaten,” ujarnya.

Ade juga menambahkan, kejadian yang terjadi di Pameungpeuk merupakan lambatanya penanganan dan pencegahan yang dilakukan Pemkab Garut.

“Saya terus meminta lakukan tracking contak dan rapid test. Hingga sekarang tidak di gubris. Padahal untuk mengantisipasi terjadinya penyebaran,” pungkasnya.(*)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60