Jahe Jadi Buruan Warga Garut, di Ciawitali Harganya Naik 100 Persen

  • Whatsapp
banner 468x60

Laporan wartawan Pojokberita.co.id: Taufik R

GARUT, Pojokberita.co.id – Pandemi virus corona membuat harga rempah-rempah di Kabupaten Garut, naik beberapa hari ini, terutama jahe. Padahal, awalnya rempah yang satu ini bukan rempah utama bagi warga Garut, namun sekarang malah jadi primadona.

Muat Lebih

banner 300250

Di Pasar Ciawitali, misalnya. Selain stoknya sudah amat terbatas, harganya pun naik 100 persen. Sebelum virus Corona mewabah, harga jahe stabil di harga Rp 25 ribu per kilogram. Namun sekarang melambung jadi Rp 50 ribu per kilogram.

“Harga jahe semula Rp 25 ribu sekarang Rp 50ribu,” ujar Dedi (74) penjual sayuran di Pasar Ciawitali Garut, Minggu,(22/3/2020).

Menurut Dedi, warga menyerbu jahe untuk dibuat rimpang-rimpang, minuman berbahan baku rempah yang amat bermanfaat bagi kekebalan tubuh. Selain jahe, kunyit dan serai (Sunda: sereh) juga jadi buruan warga. Keduanya pun merupakan bahan baku pembuatan rimpang-rimpang.

Dedi menambahkan, selain rempah-rempah, sayuran di Pasar Ciawitali kini mengalami sedikit kelangkaan.

“Wortel misalnya. Saya biasa dipasok 50 kg per hari, beberapa hari ini hanya dipasok antara 10 hingga 20 kg per hari,” ujarnya.

Masih menurut Dedi, kondisi pasar pun kini sepi setelah adanya imbauan pemerintah kepada masyarakat untuk membatasi keluar rumah.

“Kurang lebih satu minggu ke belakang pengunjung pasar semakin sepi, hampir 40 sampai 50 persen berkurang, hal tersebut berdampak pada omset penjulan,” ucapnya.

Kondisi sepi pengunjung pun terjadi di Pasar Cikajang. Menurut Ketua Ikatan Warga Pasar (IWAPA) Cikajang, Agus Fajar Tura, sejak pemberitaan virus corona ramai, pengunjung ke Pasar Cikajang menurun.

“Ini berdampak pada omzet penjualan. Hampir semua pedagang mengeluhkan penurunan omzet,” ujar Agus.

Ia menyatakan, penurunan omzet penjualan sekitar 40 persen.

“Ya, hampir 40 persen terjadi penurunan. Baik yang jualan sayuran, sembako sampai dengan penjual buah-buahan. Bahkan ada pedagang yang satu hari sama sekali tidak ada pembelinya,” ujarnya.

Agus menuturkan, penurunan sangat tajam terjadi setelah adanya surat edaran Bupati Garut, Rudy Gunawan, yang melarang adanya kerumunan.

“Seharusnya Pemkab Garut mencarikan solusi bukannya melarang kerumunan. Pasar merupakan salah satu pusat berkerumunnya pembeli dan pedagang. Entah sampai kapan hal ini terjadi,” katanya. (*)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60