Berkenalan dengan Pemain Asing IBL musim 2018-2019, Berita IBL

Tentu sudah tidak sabar menyaksikan pertandingan IBL musim 2018-2019. Apalagi setelah tim-tim memilih pemain asing dalam Draft IBL, 5 Oktober 2018, kemarin. Namun ada baiknya kita mengenal siapa saja pemain-pemain asing yang membantu kontestan IBL musim depan.

Ada tiga kategori tim dalam Draft IBL kali ini. Pertama tim yang tidak mengubah komposisi pemain sama sekali. Kedua, tim yang tidak ingin mengambil risiko. Mereka memilih pemain yang sudah pernah tampil di liga Indonesia. Lalu yang terakhir yaitu tim yang memilih pemain baru, atau belum pernah tampil di basket Indonesia sebelumnya.

1. Tim yang Tidak Mengubah Komposisi Pemain

 

Tim ini yang tidak mengubah komposisi adalah Satria Muda Pertamina Jakarta. Mereka tetap menggunakan jasa Dior Lowhorn dan pemain timnas Indonesia di Asian Games 2018, Jamarr Andre Johnson. Kedua pemain tersebut membantu Satria Muda menjuarai IBL 2017-2018.

Satria Muda kehilangan kesempatan memilih dalam Draft IBL putaran pertama musim ini karena mengambil kembali Dior Lowhorn. Kemudian pada putaran kedua, mereka juga mengumumkan bahwa memperpanjang kontrak pemain naturalisasi, Jamarr Johnson. Ini artinya, Satria Muda dari awal memang berniat untuk tidak memilih pemain dalam daftar Draft IBL. Sementara itu, alasan untuk tidak mengubah komposisi pemain, diungkapkan oleh Wakil Presiden PT Indonesia Sport Venture, Rony Gunawan.

“Kami ingin mempertahankan “winning team“, karena para pemain dan pelatih sudah cocok dengan komposisi pemain yang sudah ada. Artinya ada chemistry yang terjalin, dan itu belum tentu kami dapatkan jika harus memilih pemain asing baru,” kata Rogun, sapaan akrabnya.

Dior Lowhorn sangat dominan di area kunci. Selama musim reguler IBL 2017-2018, Lowhorn menghasilkan 21,4 PPG dan 11,9 RPG. Sedangkan Jamarr yang masuk menggantikan Kevin Bridgewaters di tengah musim menghasilkan 14,0 PPG, 8,8 RPG dan 3,8 APG. Keduanya diambil kembali bukan hanya karena permainan saja, melainkan tingkah laku yang baik selama bersama tim Satria Muda.

“Dior punya gaya yang meledak-ledak dan powerfull untuk ukuran seorang big-man. Jamarr dengan kecepatannya saat fast-break. Mereka bisa jadi pelengkap bagi tim kami untuk bisa semakin solid. Mereka juga bisa bantu untuk meningkatkan kemampuan dan skill individu pemain lokal,” imbuh Kepala Pelatih Youbel Sondakh.

 

Satu lagi tim yang bisa masuk kategori pertama ini adalah Pelita Jaya Basketball Club. Mereka dianggap tidak mengubah komposisi karena memasukkan pemain asing yang sudah pernah bermain di tim tersebut.

Pada putaran pertama, Pelita Jaya kehilangan kesempatan memilih karena mengambil kembali Wayne Bradford. Garda bergaji 1.000 dolar AS itu sukses membawa Pelita Jaya ke Final IBL 2017-2018. Kemudian di putaran kedua, Pelita Jaya mengambil Kore Ricardo White. Pemain yang menjadi bagian dari Pelita Jaya saat menjuarai IBL 2016-2017. Artinya, Pelita Jaya tidak ingin coba-coba kali ini.

Bradford dianggap sebagai pemain yang cocok dengan strategi tim Pelita Jaya. Selain itu, dia juga pemain yang subur dengan 20,0 PPG, 6,0 RPG dan 3,5 APG di musim reguler IBL 2017-2018. Bradford punya kemampuan yang lengkap seperti kecepatan, keahlian melantun bola dan akurasi tembakan.

Pelita Jaya juga kembali memakai jasa Kore White. Pemain bergaji 3.000 dolar AS itu pernah berbaju Pelita Jaya di IBL 2016-2017. Ini merupakan sinyal bahwa Pelita Jaya ingin lebih dominan di area kunci. Musim lalu, Pelita Jaya diperkuat CJ Giles. Meski dominan di musim reguler dengan rekor 16-1, CJ Giles hanya menyumbang 12,8 PPG dan 14,7 RPG. Sedangkan Kore White saat di Pelita Jaya mampu mengoleksi 24,4 PPG dan 13,6 RPG. Dari perbandingan dua statistik tersebut, jelas bahwa kedatangan Kore White bisa menambah pundi-pundi poin Pelita Jaya.

Kore White sudah tidak asing lagi bagi basket Indonesia. Setelah menjuarai IBL 2016-2017, ia kembali bermain di IBL 2017-2018. Kala itu, Stapac Jakarta membutuhkan tenaganya di pertengahan musim menggantikan Nate Barfield. Kore berhasil membawa Stapac sampai ke babak semifinal. Kemudian di pertengahan bulan Juli 2018, Kore White memperkuat Timnas Indonesia saat menjalani turnamen uji coba di William Jones Cup 2018 di Taiwan.

2. Tim Memilih Pemain Yang Sudah Pernah Tampil di IBL Sebelumnya

 

Ada tiga tim yang bisa digolongkan sebagai tim kategori kedua ini, yaitu Siliwangi Bogor, Hangtuah Sumsel dan terakhir Satya Wacana Salatiga. Mereka sama-sama memilih satu pemain asing yang sudah pernah tampil di IBL sebelumnya.

Siliwangi di putaran pertama langsung mengambil Martavious Irving. Pemain yang pernah membela Pelita Jaya di IBL 2016-2017. Irving masuk ke Pelita Jaya di pertengahan kompetisi menggantikan Winston Grays. Tapi saat itu, Irving berjasa membuat Pelita Jaya juara. Selama babak playoff, Irving mencetak 15,6 PPG, 7,0 RPG dan 3,2 APG.

Siliwangi tampaknya tidak ingin membeli kucing dalam karung lagi. Sebab di dua musim sebelumnya, tim ini selalu bermasalah dengan pemain asing. Pilihan mereka selalu salah dan akhirnya memengaruhi performa tim. Pergantian pemain di tengah musim juga tidak membuat Siliwangi lebih baik. Oleh sebab itu, kali ini mereka mengambil Martavious Irving yang sudah terbukti kualitasnya.

Sementara di putaran kedua, Siliwangi mengambil Michael Vigilance Jr. Pemain berusia 24 tahun itu sempat membela Team New Orleans di EuroBasket S League. Vigilance tercatat dua musim tampil di NCAA Divisi II dengan rata-rata 5,8 PPG dan 4,5 RPG dari 57 laga.

 

Tim kedua yang mengambil pemain yang sudah jelas kualitasnya adalah Hangtuah Sumsel. Pada putaran kedua mereka memilih Gary Jacobs Jr.. Artinya, ini menjadi musim ketiga bagi garda 26 tahun itu di liga Indonesia. Menariknya, Gary berada di tiga tim berbeda dalam tiga musim kompetisi.

Gary Jacobs sukses memukau publik basket tanah air saat bermain bersama NSH Jakarta di IBL 2016-2017. Hampir saja, Gary mencetak sejarah dengan mengatar NSH ke playoff. Sayangnya, catatan sejarah itu gagal diwujudkan. Tapi Gary tetap diberi anugerah Best Foreign Player IBL 2016-2017 karena performanya. Saat itu Gary mencetak 27,9 PPG, 8,2 RPG dan 5,5 APG.

Setelah tidak terpilih dalam Draft IBL 2017-2018, Gary muncul di pertengahan musim. Garuda Bandung memanggilnya untuk menggantikan Davin Matthews yang dianggap kurang bagus. Garuda pun bisa kembali bangkit saat Gary bergabung. Selama di Garuda, Gary mencetak 25,2 PPG, 7,2 RPG dan 3,8 APG.

Kini Gary Jacobs diambil Hangtuah. Tim yang musim lalu bisa sampai di babak semifinal. Kedatangan Gary diharapkan mampu membawa Hangtuah melangkah lebih jauh musim ini.

“Mengambil Gary itu jelas kebutuhan tim saya. Tapi Gary juga punya kelebihan lain yaitu pengalamannya bermain di IBL. Kami butuh sosok seorang Gary serta pemain yang punya jiwa kepemimpinan di lapangan,” kata Andika Supriadi Saputra, kepala pelatih Hangtuah.

Pemain lain yang diambil Hangtuah adalah Jarad Lee Scott. Ia bermain tiga musim di NCAA Divisi I bersama Winthrop University, lalu pindah ke Union University dan bermain di NCAA Divisi II. Saat bersama Union di musim 2016-2017 ia mencetak 12,3 PPG dan 7,6 RPG. Karir profesional Scott dimulai pada tahun 2017 dengan memperkuat tim asal Spanyol, Club de Baloncesto.

 

Tim ketiga di kategori ini adalah Satya Wacana Salatiga. Tim ini langsung memutuskan untuk mempertahankan Madarious Gibbs, dan kehilangan kesempatan memilih di putaran pertama Draft IBL 2018-2019. Gibbs dinilai punya peran luar biasa musim lalu. Sehingga Kepala Pelatih Efri Meldi yakin bahwa ia bisa tampil lebih baik musim ini. Gibbs selama musim reguler IBL 2017-2018 mencetak 27,5 PPG, 5,6 RPG dan 5,3 APG. Gibbs musim lalu sempat cedera, tapi musim ini ia sudah dinyatakan sembuh seratus persen.

Untuk putaran kedua, Satya Wacana mengambil Ronald Whitaker. Ia menjadi salah satu dari sepuluh pemain big man dengan harga antara 1.000 hingga 1.500 dolar AS. Ini sangat cocok untuk Satya Wacana, mengingat mereka sudah memberikan 2.500 dolar AS untuk mempertahankan Gibbs.

“Kami butuh pemain yang agresif. Ronald Whitaker saya rasa punya kriteria tersebut. Ia pemain yang tiggi dan punya kecepatan bagus. Bisa masuk dengan sistem kami. Dia juga seorang rebounder yang baik. Ronald Whitaker memang target pertama saya di Draft kali ini,” ucap Efri Meldi.

Whitaker bermain 33 laga bersama Florida International di NCAA Divisi I. Ia mencetak rataan 1,8 PPG dan 1,1 RPG. Whitaker memang tidak pernah bermain sebagai starter, ia hanya punya menit bermain rata-rata 7 menit per laga.

3. Tim yang Mengambil Pemain Asing Baru

 

Di kategori ketiga ini ada lima kontestan IBL 2018-2019, yaitu Stapac Jakarta, NSH Jakarta, Garuda Bandung, Bima Perkasa Yogyakarta dan Pacific Caesar Surabaya. Kelima tim ini memutuskan untuk mengambil pemain baru, yang belum pernah bermain di IBL sebelumnya. Meski begitu, ada beberapa pemain yang sudah tampil di liga basket Asia Tenggara.

Stapac Jakarta mengambil Keenang Peterson di putaran pertama dan Jordin Meyes di putaran kedua. Keduanya bergaji sama yaitu 2.000 dolar AS perbulan. Selain itu, kedua pemain ini sama-sama berusia 27 tahun.

Keputusan Stapac memang sedikit di luar prediksi. Sebab mereka tidak lagi menggunakan jasa Dominique Nelson Williams yang sudah dua musim bersama tim ini. Tetapi mungkin menjadi alasan yang wajar bila melihat kenaikan gaji Dom Williams. Karena saat ini Dom mengajukan gaji sebesar 2.500 dolar AS. Jelas Stapac akan kesulitan untuk memilih pemain kedua dengan harga di bawah 2.000 dolar AS. Apalagi stok big man di harga 1.500 dolar AS hanya 10 orang saja. Akhirnya, Stapac tidak lagi memperpanjang kerjasama dengan Dom Williams.

Peterson bermain di NCAA Divisi II bersama Lincoln Memorial selama lima musim kompetisi sejak 2010 hingga 2015. Pada musim 2014-2015, ia mencetak 10,0 PPG dan 8,2 RPG dalam 31 pertandingan. Setahun lalu, Peterson bermain di tim Thomas de Rocamora, Argentina. Selama 16 pertandingan, ia mencetak 10,1 PPG dan 6,6 RPG.

Jordin Mayes menjadi pilihan kedua Stapac dalam Draft IBL 2018-2019. Mayes merupakan anggota tim Arizona State University di NCAA Divisi I mulai 2010 hingga 2014. Ketika tidak terpilih di NBA Draft 2014, Mayes bermain di liga Nigeria dan beberapa tim di Amerika Serikat. Terakhir pemain keturunan Uganda-Amerika Serikat itu bermain untuk tim City Oilers Kampala di African Champions Cup 2017. Mayes mencetak 5,9 PPG, 2,6 RPG dan 3,0 APG dalam delapan laga.

 

NSH Jakarta termasuk tim yang mengambil pemain baru. Kepala Pelatih Wahyu Widayat Jati sudah menegaskan hal tersebut sebelum Draft IBL musim ini. Tidak seperti musim lalu yang mengambil pemain asing muda, kali ini NSH memilih pemain yang sudah berpengalaman. Mereka adalah Anthony Simpson (31 tahun) dan DaShaun Najee Wiggins (27 tahun).

“Yang jelas saya memilih mereka karena statistik dan pengalamannya. Saya berharap mereka bisa membantu target kami ke playoff. Selain itu, mereka bisa membagi pengalaman bermain ke pemain-pemain NSH, terutama pemain muda. Saya harap dalam dua atau tiga tahun lagi, pemain muda ini sudah matang,” kata Wahyu.

Anthony Simpson punya pengalaman bermain di NCAA, G-League dan liga basket profesional beberapa negara. Sejak 2016 hingga 2018, Simpson memperkuat tim Palestina, Sariya Ramallah Basketball Team. Sedangkan DaShaun Wiggins menjadi pemain Portland State University di NCAA Divisi I tahun 2013 hingga 2015. Sayangnya, Wiggins tidak terpilih dalam Draft NBA. Ia kemudian berpetualang ke beberapa negara. Wiggins terakhir bermain untuk tim APOP Paphou di liga Cyprus. Ia sempat bermain bersama Anton Waters, pemain asing Pacific Caesar Surabaya di IBL 2017-2018 lalu. Dalam lima laga, Wiggins mencetak 12,6 PPG, 4,6 RPG dan 3,6 APG.

 

Di musim 2017-2018, Garuda Bandung mengalami masalah dengan pemain asing. Mereka mengganti Davin Matthews dengan Gary Jacobs Jr. di pertengahan musim. Tapi selama dua musim, Garuda belum pernah mendapatkan pemain asing yang betul-betul punya kualitas yang istimewa. Walau begitu, mereka tetap bisa mempertahankan prestasi dengan lolos ke babak playoff.

Musim ini, Kepala Pelatih Andre Yuwadi membuat perubahan strategi di Draft IBL. Garuda mengambil dua pemain asing berusia 23 tahun yaitu Jamal Ray dan Dalarian Williams. Ini sangat cocok dengan tim Garuda yang berisi pemain muda.

Jamal Ray baru lulus dari Lousiana State University Shrevepiort. Artinya, Garuda akan menjadi tim profesional pertama bagi garda dengan tinggi 1,88 meter tersebut. Di NCAA musim 2017-2018 ia mencetak 13,4 PPG dan 10,2 RPG dalam 35 pertandingan. Catatan pertandingan profesional juga tidak ditemukan untuk Dalarian Williams. Sebab ia masih bermain di NAIA Divisi I bersama Life University pada musim 2016-2017. Dalarian mendapatkan gelar NAIA Division I Men’s Basketball Player of the Year. Kedua pemain muda tersebut diharapkan bisa cocok dengan permainan Garuda.

“Alasan menilih kedua nama tersebut karena mereka sesuai dengan kebutuhan tim saat ini. Harapan saya, mereka bisa membantu Garuda dan bisa cocok dengan gaya permainan Garuda. Karena mereka masih muda, saya ingin mereka muda berbaur dengan seluruh keluarga besar Garuda Bandung. Tentunya harapan terbesar untuk mereka berdua adalah datang ke Indonesia dalam kondisi siap bermain,” jelas Andre.

 

Tim keempat yang mengambil pemain asing baru adalah Bima Perkasa. Tim asal Yogyakarta ini memilih Zach Allmon di putaran pertama dan LeShaun Murphy di putaran kedua. Pilihan ini dianggap sesuai dengan komposisi Bima Perkasa saat ini.

“Saya pilih sesuai dengan kebutuhan tim saja. Mereka berdua yang kami anggap cocok dengan sistem permainan Bima Perkasa. Kalau untuk target, kita lihat saja musim depan,” tegas Raoul Miguel Hadinoto, kepala pelatih Bima Perkasa.

Zach Allmon lulusan Vanguard University yang tampil di NCAA Divisi I. Senter berusia 24 tahun itu musim lalu bermain di liga Vietnam bersama Danang Dragons. Ia mencetak 28,3 PPG dan 15,1 RPG dalam 15 pertandingan. Kemampuannya di area lubang kunci tidak diragukan lagi. Pilihan kedua Bima Perkasa adalah LeShaun Murphy. Setelah bermain di NCAA Divisi I mulai 2009 hingga 2015, Murphy pergi ke liga basket Eropa. Pada musim 2017-2018 ia bermain bersama klub Spanyol, Agricola Villarrobledo CBV. Murphy mengoleksi 11,2 PPG, 3,4 RPG dan 2,8 APG di 29 pertandingan.

 

Tim terakhir yang mengambil pemain asing baru adalah Pacific Caesar Surabaya. Mereka memilih Anthony January dan Matthew Douglas Van Pelt. Dua pemain yang sempat bermain di liga basket Thailand.

“Kami memilih kedua pemain baru karena ingin penyegaran di tim Pacific Caesar. Karena sudah dua musim kami menggunakan David Seagers. Kalau pertimbangan tentang dua pemain itu, mungkin dari sisi skill dan attitude mereka di lapangan,” kata Kepala Pelatih Kencana Wukir.

Ternyata dua pilihan Pacific Caesar tersebut sama-sama pernah bermain di liga basket Thailand. January memperkuat tim PEA, sedangkan Van Pelt pernah bermain di Mad Goat Basketball Thailand, Mekong United Raptors Thailand dan Mekong Tigers Kamboja. Saat membela Mad Goat di Gold League Thailand, ia mencetak 34,6 PPG dan 7,1 APG. Dengan tinggi 1,78 meter, Van Pelt akan menjadi contoh yang sempurna bagi garda Pacific Caesar. Karena secara postur tubuh, tinggi Van Pelt sama dengan garda-garda Indonesia.

Pemain-pemain ini akan datang ke Indonesia dalam minggu ini. Mereka akan berlatih dan menyiapkan diri untuk mengikuti turnamen pra-musim IBL yang rencananya digelar di Solo pada 14 hingga 21 Oktober 2018.(*)

Foto: Dokumentasi IBL


Tinggalkan komentar